Bubuk kopi Gayo semakin digemari dikalangan masyarakat, begitulah kalimat yang tertulis mengawali foto di halaman Serambi Indonesia edisi 31/12/13.

Meningkatnya kalangan masayarakat urban di perkotaan seperti di Banda Aceh mendorong tingkat penjualan bubuk kopi Gayo. Banyaknya masyarakat yang saat ini lebih memilih bubuk kopi jenis Arabica yang memiliki tingkat kafein lebih rendah dibandingkan jenis kopi Robusta mendorong laju pertumbuhan trnsaksi kopi Gayo.


Kisah ini adalah fakta semata. Semua nama dan tempat yang disebutkan disini bukan rekayasa. Apalagi fitnah. Begini ceritanya. Kahar hanyalah seorang toke kopi dari ratusan toke kopi yang ada di Aceh Tengah. Meski telah melakukan transaksi jual beli kopi selama tidak kurang dari 10 tahun, namun Kahar dalam transaksinya tidak pernah menggunakan kuitansi resmi. Apalagi memakai stempel.


Tidak hanya sekedar nikmat dan gurih saat disajikan, namun hal lain yang istimewa untuk kopi Gayo adalah history yang melatarbelakanginya.

Sistem Resi Gudang di Aceh Tengah kemungkinan akan diaktifkan Juli 2014 mendatang, unjar staf Dinas Perindustrian dan Perdagangan Aceh Tengah, Sabrin dalam sebuah acara sosisalisi mekanisme sistem Resi Gudang di KBQ Baburayyan.

Diharapkan sistem ini akan membawa mamfaat kepada pada petani dengan memotong sistem alur perdangangan kopi.


Dalam proses pelaksanaannya Disprindagkop akan mengandeng beberapa mitra salah satunya adalah Bappebti dan kemungkinan akan mengandeng Perhutani dalam penggelolaan gudang.


Salah satu peserta mengharapkan kedepan Resi Gudang tidak hanya sebagai tempat menyimpan kopi namun juga dapat menganalisa tren harga kopi, " Analisa ini sangat penting karena pengalaman yang ada banyak petani yang merugi karena akibat penurunan harga kopi di pertengahan tahun ini," unjarnya.